Mau Tahu Cara Interaksi Maksimal dengan Si Kecil???
Ternyata mainan sederhana dan murah bisa mengasyikkan, bahkan bisa memberikan stimulasi yang baik bagi perkembangan anak. Bahkan, dengan sebuah sendok saja, si buah hati bisa diajak bermain.
''Percuma kan kalau punya mainan mahal yang katanya bisa merangsang perkembangan otak tapi anak disuruh main sendiri tanpa interaksi dengan orangtua,''
Sebenarnya bagaimana cara menstimulasi perkembangan otak dan saraf anak? Apakah harus dengan mainan atau cukup dengan memberikan nutrisi yang baik saja?
![]() |
| Mau Tahu Cara Interaksi Maksimal dengan Si Kecil??? |
Sejak lahir
Untuk perkembangan otak anak, bayi membutuhkan asupan zat besi, lemak dan kolesterol, DHA, glycoprotein dan gangliosida. Semua zat itu terdapat pada air susu ibu (ASI).
Perkembangan otak, jelas Dr Hardiono D Pusponegoro, tidak hanya dengan nutrisi tetapi juga harus dengan stimulasi atau anak diajak bermain. Stimulasi ini diperlukan agar sinaps (sambungan antarsaraf dalam otak) dapat terus berkembang. Sinaps yang tidak digunakan karena kurangnya stimulasi akan spontan menghilang.
''Kita tidak punya waktu banyak, bayi dilahirkan dengan 100 miliar sel otak, dalam dua jam setelah lahir saja perkembangan sambungan saraf akan berlipat-lipat banyaknya. Oleh karena itu stimulasi pada bayi harus dilakukan sejak melahirkan,'' kata dokter dari Divisi Saraf Anak, Departemen I Kesehatan Anak FKUI/RSCM itu.
Sesaat setelah bayi lahir dan dibersihkan, harus langsung diberikan kepada sang ibu untuk diberi ASI. ''Tidak boleh lebih dari 30 menit, begitu lahir langsung diberikan ke ibunya,'' tegas Hardiono dalam seminar awam 'Be A Smart Mom' oleh PT Fonterra Brand Indonesia, Sabtu (1/11).
Ia mengingatkan para ibu agar tidak khawatir ASI tak bisa keluar. Sebab, justru karena diisap si bayi saat baru lahir, ASI bisa keluar. Selain ASI, saat itu bayi sudah harus diajak berinteraksi dengan cara ditatap matanya, dipeluk, dicium, serta diajak berbicara dengan suara lirih. Sejak baru lahir, meski masih samar-samar sebenarnya bayi bisa melihat benda yang di depannya dan mampu mendengar suara di sekitarnya.
Sering perkembangan anak, pemberian nutrisi dan stimulasi harus seimbang. Kedua hal tersebut harus terus diberikan selama periode emas si anak, atau pada tiga tahun pertama. Pada saat itulah otak tumbuh dan berkembang sangat pesat.
Stimulasi yang baik juga dapat merangsang perkembangan semua sistem sensorik dan motorik anak. Lebih jelasnya tujuan memberikan stimulasi pada bulan-bulan pertama di antaranya mengembangkan minat terhadap suara, sensasi, penglihatan, dan untuk menenangkan diri. Setelah itu untuk membangun komunikasi dua arah antara si anak dan orangtua atau orang lain.
Floor time
Untuk memberikan stimulasi pada anak, Hardiono menjelaskan, teknik floor time merupakan salah satu cara yang tepat. Floor timeatau bermain di lantai, menurut dia, sangat tepat karena memberikan rasa nyaman pada anak.
Orangtua dipaksa sejajar dengan si anak di lantai agar tidak memberi pengaruh buruk pada mata si anak. Jika anak harus menengadah karena anak di lantai dan orangtua berdiri, atau anak dalam gendongan orangtua dan harus berinteraksi dengan orang lain yang lebih tinggi akan mengganggu perkembangan mata.
Melalui floor time, anak akan terlatih atensinya terhadap sesuatu dan memberikan kedekatan emosi dengan orangtuanya. Saat bermain dengan anak, tidak perlu menggunakan mainan yang mahal. Untuk melatih pendengaran bisa digunakan kertas yang diremas. Jika pendengaran anak baik maka akan mencari sumber suara tersebut.
Untuk melatih penglihatan dapat digunakan benda dengan warna yang terang. Benda diperlihatkan pada anak lalu digeser ke kanan dan ke kiri. Jika respons anak baik maka dia akan mengikuti gerakan benda itu bahkan mencoba meraihnya.
Kemudian, kita juga bisa melihat komunikasi yang dibangun si anak kepada orangtua. Komunikasi itu dapat berupa perubahan mimik wajah atau dengan bahasa-bahasa sederhana. Saat si anak seperti menolak benda yang kita berikan, itu berarti dia takut atau tidak suka dengan benda itu. ''Kalau sudah begini jangan dipaksa, karena bisa-bisa anak akan ketakutan dan terus terbayang sampai besar,'' ungkap Hardiono.
Dengan metode ini, anak juga dapat berbagi perasaan dengan orang lain, berekspresi (merangsang emosi). Caranya bisa dengan main pura-pura. Misalnya, saat anak diberikan mainan telepon dan dia mendekatkan gagang telepon pada telinganya, orangtua harus tanggap. Bertindaklah seolah-olah sedang dalam pembicaraan di telepon.
Contoh lain, saat anak bermain sesuatu dan memukul mainan tersebut. Ketika dia merasa kesakitan, sambil menangis dia julurkan tangannya kepada kita. Saat itulah, dia ingin berbagi perasaan. ''Kita harus tanggap untuk langsung berinteraksi,'' kata Hardiono.
Hardiono menyarankan, saat bermain dengan anak, orangtua harus bersabar dan jangan mengharapkan anak mempunyai berbagai kemampuan sekaligus. Mainan yang diberikan saat bermain jangan semuanya dikeluarkan dan disodorkan kepada anak.
Mainan seharusnya dikeluarkan satu per satu, dan biarkan si anak menelaah mainan itu. Setelah dirasa cukup, baru mainan diganti yang lain. Selain itu, lanjutnya, sesekali anak harus dibawa keluar rumah untuk merasakan pengalaman di alam.
''Kalau mau mengenalkan kambing, jangan pakai boneka, tapi ajak saja ke kandang kambing biar si anak tidak hanya mengerti bentuknya tetapi juga bau serta suasananya. Ini pengalaman yang bagus sekali buat anak,'' ujarnya.
Tips Floor Time
1. Luangkan waktu 20 sampai 30 menit untuk bermain dan berinteraksi dengan anak. Usahakan waktu tersebut memang sangat khusus buat anak dan tidak diganggu dengan aktivitas lain.
2. Floor time dapat diulang beberapa kali dalam sehari.
3. Ikuti kemauan anak, dan berikan mainan yang sesuai dengan perkembangan anak.
4. Mainan tidak perlu mahal, semua benda bisa jadi mainan asalkan bisa merangsang semua panca indranya. Beri mainan dengan tekstur berbeda agar bisa disentuh, ada yang berbunyi agar bisa didengar, dan ada yang warna-warni agar si anak bisa melihat.
5. Inti dari floor time adalah berinteraksi, bukan menghibur. Kita tidak perlu menjadi badut, tetapi dengan bermain sejajar dengan anak.

Komentar
Posting Komentar